Portallombok – Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 diharapkan berjalan sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) guna mencegah penumpukan siswa di sekolah tertentu.
Persoalan ini harus mendapat perhatian serius dari Pemerintah Daerah (Pemda) baik ditingkat Provinsi dan Kabupaten Kota. Sehingga pendidikan yang merata bisa terwujud.
Anggota Komisi V DPRD Nusa Tenggara Barat, Ir. Made Selamet, menyebut fenomena penumpukan siswa di sekolah favorit berbanding terbalik dengan kondisi sejumlah sekolah lain yang kekurangan murid, bahkan hingga terancam tutup.
“Jangan sampai yang sudah banyak semakin banyak, sementara yang kosong semakin kosong. Bahkan ada sekolah dasar yang terpaksa tutup karena kekurangan siswa, sementara sekolah lain justru menumpuk,” ujarnya, Senin 13 April 2026 kepada wartawan.
Menurutnya, salah satu faktor utama ketimpangan tersebut adalah belum meratanya fasilitas pendidikan. Sekolah yang sudah memiliki reputasi baik cenderung terus mendapatkan perhatian lebih, sementara sekolah di wilayah pinggiran kurang mendapat dukungan.
“Kalau faktor penunjangnya sudah bagus, kualitas biasanya ikut meningkat. Namun yang terjadi sekarang, sekolah yang sudah punya nama terus dibantu, sedangkan yang di pinggiran seolah terabaikan,” katanya.
Selain fasilitas, Politis PDIP NTB ini juga menekankan pentingnya pemerataan distribusi tenaga pendidik, khususnya guru berprestasi. Ia menilai penempatan guru seharusnya tidak dianggap sebagai bentuk hukuman, melainkan sebagai penghargaan yang disertai insentif memadai.
“Guru berprestasi harus diberi penghargaan dengan penempatan strategis di sekolah yang membutuhkan, serta didukung insentif yang layak. Ini penting untuk mendorong pemerataan kualitas pendidikan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kondisi sekolah swasta yang harus membiayai tenaga pengajar secara mandiri tanpa dukungan memadai dari pemerintah. Hal ini dinilai turut memperlebar kesenjangan antar lembaga pendidikan.
Lebih lanjut, Ia mengaku kerap menerima keluhan masyarakat saat proses SPMB berlangsung. Banyak orang tua kesulitan mendapatkan sekolah bagi anaknya akibat penumpukan di sekolah tertentu.
Sebagai bentuk kepedulian, ia telah menyalurkan dana aspirasi untuk membantu peningkatan fasilitas di SMA Negeri 11 Mataram, yang sebelumnya memiliki jumlah siswa relatif sedikit. Bantuan tersebut meliputi pembangunan lapangan dan musala, serta rencana pengembangan sarana olahraga.
“Tahun ini saya alokasikan sekitar Rp500 juta untuk pengembangan fasilitas olahraga seperti basket dan voli. Harapannya, sekolah ini bisa lebih diminati masyarakat,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah dapat lebih fokus pada pemerataan pendidikan, baik dari sisi fasilitas, tenaga pendidik, maupun sistem penerimaan siswa.
“Semua sekolah harus bisa menjadi favorit. Pemerintah harus mengarah ke pemerataan agar tidak ada lagi penumpukan dan ketimpangan,” jelasnya.
Vr.



